Monday, October 16, 2006


PAGI TAK BERUJUNG
Mendung memayungi langkah saya, menuju sebuah "kompleks hunian". Hari masih terlalu awal, saat saya tiba di sebuah "rumah". Lantas... salam pun terucap.

Tak ada jawaban. Namun, saya yakin, sang pemilik singgasana tahu kehadiran saya. Maka ia membalas salam saya, melalui angin pagi, yang bertiup lembut.
"Saya di sini.." bisik saya pelan... hampir tak terdengar.
Kemudian.. saya mulai melantunkan ayat-ayat suci, sebagai "buah tangan". Ya, hanya doa-doa inilah yang bisa saya kirimkan.
Usai "kunjungan" itu, saya bergegas pulang. Namun, sebuah suara, menghentikan langkah saya. "Mbak Icha, ya? kok datangnya sekarang? kan acaranya nanti sore" Lelaki setengah baya itu menyapa saya dengan sejumlah pertanyaan.
"Acara apa?" Tanya saya singkat.
"Kemarin pagi, keluarga almarhum minta di siapin tenda. Katanya ada acara apa gitu". Lelaki itu, mencoba mengingat-ingat sesuatu.
"Paling ziarah keluarga, Pak" Jawab saya yakin.
"Tapi, ada acara nyanyi-nyanyi nya gitu" Si Bapak tua meyakinkan.
"Ooh... saya gak bisa datang. Makanya datang sekarang. Mari, Pak." Saya pun pamit, dan berlalu pulang.
Ah.. Saya tau... bahkan teramat tau, acara apa yang akan mereka buat. Yang saya tidak tau, bagaimana harus bersikap "memaklumi" ritual itu.
Saya hanya bisa berprasangka baik, kalau tujuan semua itu semata-mata untuk mendoakan "Pangeran" saya.
Langkah pun berlanjut... siap menanti siang... meninggalkan pagi yang seakan tak berujung.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home