Thursday, September 28, 2006



HIDUNGNYA GEDE, YA......
Liputan untuk program CERITA SORE? Pastinya gak jauh-jauh dengan tema berbau humanis dan dramatis. Otomatis, narasumbernya adalah orang-orang miris, yang mengalami penderitaan berlapis, hingga bikin hati saya menangis, karena teriris.... (apaan seeeh?).
Termasuk liputan saya yang satu ini. Tentang seorang penjaga Masjid Daarut Tauhid - Bandung. Namanya Romi. Pahitnya pengalaman hidup. membuat lelaki asal Solok - Sumatera Barat ini bertekad merubah nasib.
18 Tahun, Romi menjad pengemis, di tanah kelahirannya. 18 tahun, ia menadahkan tangan, mengharap belas kasihan orang lain. 18 tahun, harga dirinya ia pertaruhkan demi kepingan rupiah.
Hingga suatu hari, mata bathinnya terbuka, setelah berkali-kali mendengar ceramah Aa Gym. Tahun 2005, ia memutuskan mendalami Islam, agama yang dianutnya sejak lahir. Berbekal uang secukupnya, Romi memberanikan diri mendatangi Pesantren Daarut Tauhid. Di tempat ini, Romi dipercaya menjaga stand kaset-kaset rohani. Bahkan, Romi juga turun tangan membantu membereskan sandal-sepatu para pengunjung Masjid. Sebagai imbalan, Romi menerima "gaji" dan diizinkan tinggal di Pesantren, sambi mendalami ilmu agama.
Perjuangan hidup Romi itulah, yang membuat Saya dan Fajar (cameraman), tertarik untuk mengangkat profilnya.
----------------
1 Mei 2006. Pukul : 4 Subuh...
Subuh itu, kami terobos dinginnya udara Bandung, menuju Daarut Tauhid. Di sana, kami langsung bertemu Romi. Aksi pun dimulai.
Setiap gerak Romi, diabadikan cameraman Fajar. Sosok Romi memang luar biasa. Kedua kaki dan tangannya, tak sempurna. Cara bicaranya pun, sulit dimengerti. Untuk Berjalanpun, ia harus bersusah payah, menjaga keseimbangan. Tapi tetap saja, bagi kami sosok nya begitu istimewa.
Pukul : 7 Pagi...
Saya, Fajar, Romi, dan driver kami duduk di sebuah bangku kayu sederhana, sambil menikmati bubur ayam. Cerita pun, mulai mengalir dari mulut Romi.
"Saya pernah lihat Gedung Trans TV" katanya. Dengan artikulasi yg hampir tidak kami mengerti.
Kami pun menanggapi ringan "OOOOoooh..."
Cukup lama... suasana hening. Masing-masing dari kami kembali menikmati menu sarapan pagi itu. Tiba-tiba, Romi menatap lekat-lekat wajah Fajar. Lalu berkata " GEDUNG nya gede ya"
Sontak, kami semua tertawa terbahak. Begitupun dengan Romi.
Fajar pun berkomentar "Wah, dia ngatain HIDUNGku gede" . Tawa kami pun meledak lagi.
Tiba-tiba, Romi terdiam, dan menunduk.. "Maaf, Romi udah bikin salah pengertian.... maksud Romi, GEDUNG Trans Tv nya gede. Bukan HIDUNG"
Saya pun berusaha menghibur Romi, agar ia tak merasa bersalah. "Ooooh, Gedung..? Kami mendengarnya Hidung. Tapi emang hidung Fajar Gede, kok."
Dan... Romi pun kembali tersenyum....

Friday, September 22, 2006

GREAT POISON
Racun. Begitu panggilan "sayang" saya untuk lelaki berwajah sangat biasa (bahkan cenderung jelek) ini. Gak jelas, asal usul sebutan itu. Yaaa.. mungkin krn sifatnya yang suka mengkontaminasi saya dengan segala kegokilannya.
Tapi, siapa sangka. Dibalik kegokilan nya, Racun adalah sosok yg bijak, dewasa, dan memandang segala sesuatu dari "angle" berbeda. Itulah yang membuatnya Istimewa.
Racun...
Dulu dia bisa menjadi teman curhat yg asik. Bisa menenangkan, bisa menyenangkan.
Dulu dia bisa menjadi tempat menimba ilmu kehidupan.
Dulu dulu dulu.
Tapi, entah kenapa. Kini saya merasa kehilangan sosoknya. Ga ada lagi gelak tawa. Ga ada lagi celetukan menyebalkan. Ga ada lagi petuah-petuah bijak. Aduh, Cun... ada apa dengan mu??
Jangan sampai, senyum hilang dari wajah jelekmu... huekekekekek


TRAGEDI KOLOR IJO

Pernah denger teror “Si Kolor Ijo”.. ? yup! Mahluk aneh yang menyerupai manusia dan gemar menggunakan kolor berwarna ijo ini, sempat menggegerkan warga Cijengkol, Bekasi, sekitar akhir 2003 silam! Konon, mahluk ini hobi memperkosa para wanita. Korbannya pun, ga sedikit! Nah, ga heran kalo media massa (elektronik dan cetak) kerap memberitakan aksi “Si Kolor Ijo” yang katanya, tak segan-segan menyakiti para korbannya jika melawan..

Kebetulan .. suatu hari Saya dan Kameraman Jangkung Trisanto mendapat tugas meliput ke daerah Cijengkol, Bekasi. Waktu itu, kami masih di program (Almarhum) INTEROGASI. Tapi, misi kami ke sana bukan untuk liputan “KOLOR IJO”… melainkan untuk meliput “Resedivis kambuhan yang ditembak mati polisi, di hadapan istrinya"
Trus, Apa dong hubungan si Resedivis dengan Kolor Ijo? Apa si resedivis ini gemar memakai kolor Ijo juga?

Begini ceritanya :

Di siang bolong, Saya, Jangkung, dan arif (anak magang), menyusuri suatu perkampungan nan sepi. Cijengkol namanya. Setelah tanya sana-sini, akhirnya ketemu deh, rumah si Resedivis yg tak lain TKP penembakan. Target utama, “wawancara si Istri Resedivis”. Dengan sedikit rayuan gombal, akhirnya si Istri mulai bercerita panjang lebar soal penembakan yg dilakukan polisi. Dia juga menunjukkan atap yg jebol dan kaca pecah karena letusan pistol polisi. Kurang dari setengah jam, wawancara selesai. Jangkung masih ngambil gambar TKP n lingkungan sekitar… Setelah beres, kami pun pamitan pada si Istri n warga setempat yang berkerumun sejak tadi.

Saya & Arif jalan duluan. Jangkung yang masih sesekali sibuk ngambil gambar, mengikuti di belakang. Tiba-tiba… sayup-sayup terdengar suara anak-anak kampung itu mengikuti kami. Mereka cekakak-cekikik ga jelas. Saya pikir, ah, biasa kan, setiap liputan suka gitu.. namanya juga anak-anak. Kalo ngeliat kamera, kaya ngeliat mahluk asing.

Tapi… makin lama, cekakak-cekikik berubah jadi tawa lepas, ngakak. Saya menoleh ke Jangkung di belakang. Dia juga keliatan bingung gitu, karena anak-anak tadi masih ngikutin dia, sambil nunjuk-nunjuk pula..

Dengan PD nya, Saya bilang ke bocah-bocah ingusan itu.
Saya : Adik-adik, ngapain pada ngikutin kita? Pulang gih… pulang yaaa. ( gaya guru TK, neh!)
Anak-anak : Hihihi… Hahahahaha

Waduh, kok susah banget niy di kasih tau! Udah deh cuekin aja, toh ga ganggu-2 banget! Akhirnya, kita putusin jalan terus..

Dan… OOOOOhhh, Oooohhh… kali ini bukan anak kecil lagi. Tapi pria dewasa, dgn tampang panik, ngejar kita (tepatnya ngejar Jangkung) dengan tergopoh-gopoh plus sedikit gugup.

Cowo : Mas! Mas!
Jangkung : Hah? Kenapa? (Jangkung udah mulai BT, niy)

Wah, jangan-jangan ada apa-apa nih? Pikir saya sedikit curiga.. Kami pun berhenti sejenak.

Cowo : (gugup abisss) Mas, maaf… i.. itu.. punya saya.. (sambil nunjuk ke kamera DVC Pro di punggung Jangkung.. )

Dengan sedikit takut, dan sedikit jingjit (karena si cowo jauh lebih pendek di banding Jangkung), si cowo mengarahkan tangan ke kamera, dan mencomot sesuatu berbentuk segitiga berwarna Biru…

Cowo : Maaf, mas… ini punya saya…

Oohhh, ternyata, celana dalam si cowo, yang berwarna biru menyangkut di kamera Jangkung… Astaghfirullah…

Jangkung pun cuma pasrah dan tersenyum kecut. Sementara, Saya dan Arif ngakak ngikik…. Sambil ngeledekin Jangkung….

Saya : Aduh, Jang… Kan gw pesen nya kolor motif polkadot ato bunga-bunga!
Jangkung : (senyum-senyum menahan tawa).

Rupanya, saat Jangkung tengah asyik mengambil gambar, kameranya ga sengaja nyenggol tambang jemuran warga, dan tersangkutlah si CD biru milik cowo tadi… Untung, bukan CD hijau (baca: Ijo).. bisa-bisa, warga nanti mengira, Jangkung lah si “KOLOR IJO” itu… wah, bisa-bisa ntar keluar caci maki khas Cijengkol dah! “Dasar! Bocah kagak idang, mau di bikin paeh ya`?” (artinya : dasar anak gak waras, mau di matiin ya?).